07. MEMBUKTIKAN KEBERDOSAAN

Hukum Taurat telah membuktikan bahwa manusia telah berkeadaan sebagai pelanggar terhadap kehendak Allah yaitu hukum-hukum yang diberikan kepada manusia. Dalam hal ini hukum Taurat menjadi bukti terhadap kesalahan yang dilakukan manusia. Sebagai ilustrasi, seperti misalnya kalau tidak ada tulisan “dilarang menginjak rumput” di suatu halaman, maka seorang yang menginjak rumput halaman tersebut tidak bersalah. Tetapi kalau ada tulisan tersebut, maka menginjak rumput di halaman tersebut dipandang sebagai perbuatan yang salah. Demikianlah kehadiran Taurat menunjukkan kesalahan manusia.

Apakah berarti dengan hal tersebut sebaiknya Taurat tidak perlu diadakan atau tidak diperlukan lagi? Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti pola berpikir orang Yahudi yang salah. Mereka beranggapan bahwa mereka dapat dibenarkan oleh Allah dengan melakukan hukum Taurat. Padahal hukum Taurat tidak dapat membenarkan seseorang, alasannya selain tidak ada orang yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, juga karena semua manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah. Tidak ada manusia yang dapat membenarkan diri dengan keadaan demikian. Semua manusia berkeadaan berdosa. Dengan keadaan ini, dengan cara bagaimanapun tidak dapat dibenarkan. Manusia hanya dapat dibenarkan oleh iman atas anugerah keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Dengan demikian sangatlah jelas, bahwa tidak ada orang yang dapat dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat.

Sekarang di zaman Perjanjian Baru, Allah telah menawarkan jalan pembenaran yang berbeda dengan pola atau sistem keberagamaan agama samawi seperti agama Yahudi. Pembenaran artinya diakui oleh Allah dianggap benar walau belum benar, selanjutnya orang yang dibenarkan tersebut harus terus mengalami perubahan hingga dapat diakui sebagai telah benar karena benar-benar sudah berkeadaan benar sesuai rancangan Allah. Kalau dalam pola dan sistem keberagamaan (seperti agama samawi) pembenaran diyakini dapat terjadi melalui perbuatan baik berdasarkan hukum-hukum dan cara-cara ibadah (secara seremonial). Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan orang percaya yang pembenarannya oleh iman.

Pembenaran oleh iman berangkat dari korban Tuhan Yesus di kayu salib. Darah binatang tidak dapat menyelesaikan masalah dosa. Seberapa pun jumlah darah binatang ditumpahkan, tidak dapat menyucikan dosa. Hanya darah Anak Domba Allah (darah Yesus) yang menguduskan. Selanjutnya setelah menerima penebusan, orang percaya harus hidup dalam iman seperti yang diteladankan Abraham.

Kebenaran orang benar bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman. Hal ini sesungguhnya merupakan jalan hidup yang sudah dijalani oleh Abraham. Dan ternyata Allah berkenan kepada pola kehidupan keberimanan Abraham tersebut. Dan sesungguhnya pola kehidupan iman seperti ini yang dikehendaki oleh Allah yang harus dikenakan bagi manusia dari berbagai bangsa, bukan hanya bagi keturunan Abraham secara darah daging. Orang yang memiliki jalan hidup seperti yang dijalani oleh Abraham, terhisap atau terbilang sebagai keturunan Abraham dan dilayakkan mewarisi dunia yang akan datang.

Firman Tuhan mengatakan “tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran”. Sekilas kalimat ini hendak menyalahkan keberadaan hukum Taurat, bahwa karena ada hukum Taurat maka dosa dapat dibuktikan keberadaannya. Makna negatif lainnya yang bisa timbul bahwa seakan-akan lebih baik tidak ada hukum Taurat daripada ada tetapi membuat orang berstatus berdosa. Harus dipahami bahwa hukum Taurat harus ada bagi bangsa Israel untuk berbagai maksud. Paling tidak beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, supaya bangsa Israel tetap eksis.
Hukum Taurat menciptakan ketertiban hidup.

Kedua, hukum Taurat bagi bangsa Israel menjadi alat persatuan.

Ketiga, hukum Taurat menunjukkan bahwa Allah yang benar adalah Allah Israel.
Sebagai buktinya semua manusia di bumi memiliki hukum seperti hukum yang diberikan Allah kepada Musa.

Keempat, hukum Taurat menunjukkan keberadaan manusia dan menuntunnya kepada anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus.

Firman Tuhan yang mengatakan “tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran” bermaksud agar orang percaya tidak lagi memiliki gaya atau pola hidup keberagamaan seperti penganut agama samawi lainnya (agama Yahudi). Kehidupan orang beragama samawi -seperti agama Yahudi- masih belum memenuhi standar kebenaran dan kesucian Allah. Kedatangan Tuhan Yesus dengan memberikan anugerah dan kebenaran Injil menggantikan apa yang telah diberikan Allah melalui hukum-hukum-Nya. Hukum Taurat yang diberikan kepada bangsa Israel pada zaman anugerah ini telah disempurnakan oleh Tuhan Yesus.

Hukum Taurat yang disempurnakan adalah kebenaran yang mencerminkan wajah kesucian Tuhan. Jadi, setelah orang percaya menerima pengampunan atau penebusan dosa oleh darah Yesus, maka orang percaya dipanggil untuk memiliki kesucian Tuhan. Penurutannya bukan kepada hukum-hukum yang masih miskin, tetapi penurutannya terhadap kehendak Allah. Sehingga prinsipnya adalah “Tuhan adalah hukumku”; segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah harus dilakukan. Inilah gaya hidup Abraham. Inilah iman yang sesungguhnya, yaitu penurutan terhadap kehendak Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.