07. IKATAN SURGAWI DAN IKATAN DUNIAWI

Sebagai orang percaya, kita harus dapat membedakan antara ikatan surgawi dengan ikatan duniawi.Ikatan surgawi adalah perkara-perkara yang mengarahkan orang percaya selalu tertuju kepada Kerajaan Surga atau dunia yang akan datang. Hal ini terkait dengan kenikmatan terhadap keindahan Tuhan atau perkara-perkara rohani. Sedangkan ikatan duniawi adalah perkara-perkara yang mengarahkan orang percaya selalu tertuju kepada keindahan dunia hari ini. Dalam hal ini orang percaya harus memilih, apakah memberi diri terikat dengan ikatan surgawi atau ikatan duniawi. Seseorang tidak bisa memiliki kedua ikatan tersebut, tetapi harus memilih salah satu. Tuhan Yesus tegas sekali menyatakan: Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24).

Tidaklah mungkin seseorang dapat menikmati keindahan Tuhan atau perkara-perkara rohani, sementara itu juga menikmati keindahan dunia. Ibarat sebuah citarasa lidah, seseorang tidak bisa menikmati dua jenis makanan di lidah dalam waktu yang bersamaan. Orang percaya harus memilih salah satu jenis makanan apa yang dinikmatinya. Tuhan tidak berkenan orang percaya sementara mengikut Tuhan Yesus, juga memiliki gaya hidup seperti anak-anak dunia atau manusia pada umumnya. Tuhan Yesus tidak menolerir hal ini sama sekali. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen yang bersikap tidak setia. Mereka menjadikan Tuhan hanya sekadar tambahan, bukan sebagai satu-satunya tujuan hidup dan kesukaannya.

Orang percaya harus hanya menikmati keindahan Tuhan dan perkara-perkara rohani, bukan kenikmatan dari sumber lainnya. Memang hal ini sesuatu yang sulit dijelaskan, sebab Tuhan tidak kelihatan dan perkara-perkara rohani adalah hal-hal yang abstrak. Tetapi kalau umat pilihan percaya bahwa Tuhan adalah Pribadi yang hidup, maka mereka dapat mengalami Tuhan secara konkret. Mereka tidak sedang berfantasi atau hidup dalam dunia mimpi, tetapi berinteraksi dengan realitas Tuhan yang hidup tersebut. Inilah uniknya “hidup dalam iman” seperti yang dikemukakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:18). Dibagian lain ia juga menulis: … sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2Kor. 5:7). Tentu saja orang percaya seperti Paulus ini sulit dimengerti oleh orang lain yang tidak mengenal kebenaran.

Tidak mudah menjadikan keindahan Tuhan dan perkara-perkara rohani sebagai kesukaan hidup, sebab manusia sudah terbiasa memiliki banyak kesukaan. Dari kanak-kanak, seseorang sudah terbiasa memiliki berbagai kesukaan atau kesenangan, dari mainan pada waktu masih kanak-kanak, pada waktu remaja kesukaannya sepeda, menginjak pemuda kesukaannya adalah motor, setelah dewasa kesukaannya berupa mobil, rumah, dan lain sebagainya. Belum lagi ikatan dengan pacar, teman hidup, dan lain sebagainya. Tuhan tidak kelihatan, sementara segala hal diatas nyata dan dapat dinikmati secara riil oleh fisik.

Dengan berbagai kesukaan atau kesenangan tersebut, banyak orang telah memiliki irama hidup yang permanen, yaitu menikmati keindahan dunia ini. Hal ini seperti “candu” yang membelenggu selera jiwa. Karena dalam waktu panjang terikat dengan berbagai kesukaan atau kesenangan tersebut, maka ia sampai pada taraf tidak bisa terlepas lagi. Mereka terikat dengan ikatan duniawi tersebut sampai menutup mata. Irama dan gaya hidup yang salah tersebut menggiring mereka kepada kebinasaan. Tetapi mereka menganggap bahwa itu adalah irama dan gaya hidup yang wajar, tidak menyalahi hukum dan etika. Itulah sebabnya mereka merasa aman dan nyaman saja. Bahkan mereka merasa berhak mengklaim bahwa mereka sebagai orang percaya kepada Yesus dan beragama Kristen yang layak masuk surga.

Tentu saja wajah batin mereka adalah wajah dunia, bukan wajah Yesus. Orang-orang Kristen seperti ini, pada akhirnya pasti ditolak oleh Tuhan Yesus, dan Tuhan menyatakan bahwa Dia tidak mengenal mereka (Mat. 7:21-23).Orang-orang Kristen yang hidup dalam kewajaran anak dunia tersebut sesungguhnya telah dituai oleh Iblis. Mereka tidak akan pernah mengerti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil. Mereka hanya memahami ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang orientasi berpikirnya masih kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Pengajar-pengajar mereka adalah orang-orang yang mengajarkan apa yang menyenangkan telinga (2Tim 4:3, Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya). Gereja-gereja yang dua sampai lima dasawarsa ini -yang sekarang menjadi gereja-gereja besar (megachurch)- pada umumnya tergerus oleh ajaran yang menyimpang dari Injil ini. Gereja-gereja seperti ini banyak peminatnya, karena ajaran mereka sesuai dengan selera zaman atau sesuai dengan semangat zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.