07. ANALISA ROMA 8:28

Di dalam Roma 8:28-29 terdapat penjelasan penting untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa Allah tidak secara sepihak memilih dan menentukan orang-orang tertentu masuk surga dan yang lain masuk neraka. Roma 8:28-29 tertulis: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”Kesalahan memahami ayat ini bisa membangun teologi yang menyimpang dari kebenaran.

Dengan teliti kita memperhatikan Roma 8:28, yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”Dimulai dengan kalimat “kita tahu sekarang.” Kalimat ini menyambung kalimat atau ayat-ayat sebelumnya. Kalimat sebelumnya berbicara mengenai Roh yang memimpin nurani atau cara berpikir kita agar sesuai dengan kehendak Allah. Kalimat “Allah turut bekerja” dalam teks aslinya adalah sunergei (συνεργεῖ), dari akar kata sunergeo (συνεργέω). Kata sunergeo merupakan gabungan dari dua kata, yaitusun dan ergon. Sun artinya bersama-sama, sedangkan ergon artinya bekerja atau melakukan sesuatu berkesinambungan atau terus menerus. Kata sunergei memiliki keterangan waktu verb indicative present active 3rd person singular yang menunjuk kepada kegiatan yang berlangsung terus menerus.

Dari tulisan Paulus ini diperoleh pelajaran rohani bahwa melalui setiap peristiwa atau kejadian, Allah bekerja menggunakan semua hal tersebut untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Dalam hal ini, tidak dapat dibantah bahwa Allah membutuhkan sarana untuk mendewasakan orang percaya. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa perubahan hidup orang percaya menuju kedewasaan tidak dapat berlangsung dengan mudah atau secara otomatis. Ada perjuangan, baik dari pihak Allah melalui Roh Kudus dan orang percaya yang menerima penggarapan tersebut. Hal ini sangat jelas memberi petunjuk pentingnya respon manusia dalam menyambut anugerah keselamatan yang Tuhan berikan.

Konteks sebenarnya dari Roma 8:28-29 adalah usaha atau sebuah proses dimana Allah memberi “kebaikan” kepada orang-orang percaya yang menjadi umat pilihan. Kata “kebaikan” dalam teks aslinya adalah agathos (ἀγαθός), yang bisa berarti of good constitution or nature(baik dalam arti secara natur atau konstitusi atau secara unsur). Dengan demikian kata “kebaikan” yang dimaksud dalam ayat ini adalah menjadi “menjadi serupa dengan Yesus.” Inilah sesungguhnya inti keselamatan, dimana manusia mengalami pembaharuan hidup sampai pada tingkat mengalami perubahan kodrat. Hal ini lebih dari sekadar perubahan secara moral umum. Tentu saja perubahan ini merupakan proses yang panjang, berat, atau sukar. Untuk ini segenap potensi dan waktu yang dimiliki orang percaya harus hanya diarahkan untuk hal ini sepenuhnya.

Kalimat “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” bukan berarti mereka ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, tetapi menunjuk kepada sekelompok manusia yang diberi kesempatan mendengar Injil. Hal ini tergantung prerogative Allah. Adapun apakah seseorang digarap oleh Allah untuk mengalami perubahan kodrat atau dikembalikan ke rancangan Allah semula tergantung respon masing-masing individu.Respon tersebut ditunjukkan dengan “mengasihi Allah.” Berbicara mengenai “mengasihi” menunjuk sikap hati. Sikap hati adalah bagian terdalam dalam diri manusia yang ada di wilayah kedaulatan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mengasihi Allah tidak akan digarap Allah untuk menerima kebaikan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Yesus.

Hal “mengasihi Allah” tentu merupakan hal yang bersifat pribadi. Tuhan tidak akan berintervensi di dalam hati manusia sampai manusia kehilangan kebebasannya. Berbicara mengenai hati yang mengasihi, hal ini menunjuk kepada kebebasan setiap individu di dalam menentukan nasib dan keadaannya. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa keselamatan masing-masing individu juga diperankan oleh kehendak bebas masing-masing individu tersebut dalam merespon anugerahnya. Kalau hati menjadi wilayah yang diintervensi oleh Allah, maka manusia menjadi boneka semata-mata. Karena hal ini, maka manusia tidak perlu bertanggungjawab kepada siapapun. Tidak mungkin Allah membuat seseorang mengasihi Dia, dan yang lain tidak dibuat mengasihi Dia.Hanya orang yang “jiwanya sakit” yang memaksa orang lain mengasihi dirinya. Tidak mungkin Allah menggerakkan hati manusia mengasihi Dia, sebab jika demikian maka kasihnya dipaksakan, tidak natural dan tidak murni. Penjelasan ini menegaskan bahwa Allah tidak memilih dan menentukan secara sepihak orang-orang yang pasti selamat masuk surga.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.