06. YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN

Berbicara mengenai kebangkitan yang ditulis Paulus dalam Roma 1:4, harus dipahami bahwa kebangkitan Tuhan Yesus menunjukkan atau membuktikan ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa. Hal ini juga ditunjukkan dalam Ibrani 5:7, Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Kalau Tuhan Yesus tidak taat, maka Ia tidak akan dibangkitkan oleh Roh Allah. Dalam hal ini Roh Allah disebut oleh Paulus sebagai Roh Kekudusan. Roh Allah yang kudus tidak membangkitkan Yesus kalau Yesus tidak kudus sampai akhir pelayanan-Nya di kayu salib. Dengan kebangkitan-Nya, maka Ia dinyatakan secara terbuka dan resmi (to declare) bahwa Ia adalah yang menerima kuasa pemerintahan; duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Itulah sebabnya Paulus dengan tegas dan berani mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, Tuhan kita.

Dengan kebangkitan-Nya, maka posisi-Nya sebagai Kristus (yang diurapi) menjadi sah. Biasanya, di Israel, yang menerima pengurapan adalah seorang raja. Dengan demikian Yesus menjadi sah menyandang gelar Tuhan. Tuhan di sini artinya Kurios atau Sang Majikan. Dalam konteks Kekristenan Tuhan artinya “yang diberi kekuasaan untuk memerintah”. Tentu pengertian Tuhan dalam agama Kristen berbeda dengan pengertian Tuhan dalam agama samawi lainnya, seperti agama Yahudi dan Islam. Itulah sebabnya setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa segala kuasa di surga dan di bumi di dalam tangan-Nya (Mat. 28:18-20).

Kalau dalam agama lain dikatakan tidak ada Tuhan selain Allah, tetapi bagi kita tidak ada Tuhan selain Yesus Kristus. Terkait dengan hal ini, Petrus mengatakan: Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Pernyataan Petrus bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa sebelumnya Tuhan Yesus bukan penguasa langit dan bumi. Sebelum Allah Anak turun ke bumi mengosongkan Diri-Nya, Dia adalah Penguasa yang memerintah. Firman Tuhan mengatakan bahwa pemerintahan-Nya sejak zaman dahulu kala, sejak zaman purbakala (Mik. 5:1-2). Tetapi setelah mengosongkan Diri, meletakkan seluruh kesetaraan-Nya dengan Allah, kemudian paska kebangkitan-Nya yang menunjukkan kemenangan-Nya, Ia kembali memperoleh kemuliaan atau kuasa pemerintahan tersebut.

Kata “Anak Allah (Theos)” mengisyaratkan bahwa Yesus bukanlah Theos. Yesus adalah Anak dari Theos. Dari hal ini tersingkap ke-Tritunggalan Allah (Elohim). Elohim ini bagi Israel memiliki nama, yaitu Yahweh. Bahwa Elohim adalah sebuah “lembaga” di mana di dalamnya terdapat Pribadi Bapa dan Anak serta Roh Allah, yang adalah Roh Bapa sendiri, yang melingkupi jagad raya ini. Bapa adalah Theos, berbeda Pribadi dengan Logos yang adalah Allah Anak atau Anak Tunggal Bapa.

Pernyataan Paulus bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita, merupakan pernyataan deklaratif yang menantang setiap kita untuk memposisikan diri, apakah kita bersedia menundukkan diri kepada-Nya atau tidak. Penundukan diri harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan nyata sebagai sikap mengabdi kepada Tuhan yang menyita seluruh kehidupan orang yang mengaku Dia sebagai Tuhan. Menyita seluruh kehidupan kita berarti kita rela kehilangan semua hak demi kepentingan Kerajaan Surga.

Roh Kekudusan juga menunjuk kekudusan Pribadi Agung Anak Allah ini. Tidak ada nabi, rasul atau orang yang dianggap saleh sekaligus juga memiliki kesucian dan kebenaran seperti Yesus. Dalam moral dan semua tindakan Yesus, Ia tidak bercela sama sekali. Tidak ada sosok manapun yang dapat dibandingkan dengan Diri-Nya. Untuk menjadi saksi kebenaran yang membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa dan Tuhan Yang Mahakudus, orang percaya harus memiliki kekudusan atau kehidupan yang tidak bercela seperti Diri-Nya. Jadi, tanpa perdebatan mulut, hendaknya orang percaya menyaksikan keagungan Tuhan melalui seluruh perilakunya. Sejatinya, dari kelakuan seseorang nampak siapa Tuhan yang dipercayai atau agama yang dianutnya. Bagaimanapun, kebenaran pasti tampil sebagai kebenaran; tetapi di pihak lain, bagaimanapun kepalsuan pasti nampak nyata pada waktunya. Dalam hal ini pasti terbukti nyata, yang asli dan yang palsu.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.