06. PERSPEKTIF TERHADAP KITAB SUCI

Banyak orang Kristen tidak memahami bahwa Alkitab bukan buku hukum, sebab Kekristenan bukanlah agama hukum, tetapi jalan hidup yang berdasarkan kebenaran. Kebenaran di sini adalah kebenaran yang didasarkan pada pikiran dan perasaan Tuhan. Kalau pada agama secara umum hidup para umatnya diatur oleh hukum dengan segala sanksi-sanksinya, maka setiap kata dan hurufnya tidak boleh meleset sedikit pun, sebab berdasarkan kata dan kalimat tersebut umat ditentukan nasib dan keadaannya di bumi ini dan di akhirat. Jadi, mengubah bahasa asal atau bahasa asli Kitab Suci mereka bisa membahayakan kelangsungan agama tersebut. Tetapi Kekristenan adalah jalan hidup berdasarkan kebenaran. Kebenaran itu adalah pikiran dan perasaan Tuhan. Adapun satu-satunya Tuhan dalam kehidupan orang percaya adalah Yesus. Jadi, ketika Kitab Suci belum tersusun, asalkan mereka mengerti kebenaran yang membangun kecerdasan, maka itu sudah cukup membuat seseorang berjalan dengan Tuhan. Tetapi dengan tersusunnya Alkitab secara lengkap, orang percaya seharusnya bisa menjadi sempurna.

Bisa dimengerti kalau dalam agama-agama yang mendasarkan hidup mereka pada tatanan hukum, bahasa Kitab Suci mereka tidak boleh diubah sedikit pun atau sebisa mungkin tidak diterjemahkan ke dalam bahasa lain selain bahasa asal atau bahasa asli. Seperti misalnya agama Yahudi, sebisa mungkin Kitab Suci mereka tetap menggunakan bahasa Ibrani. Seremonial ibadah mereka juga harus menggunakan bahasa Ibrani. Doa-doa mereka kepada Allah yang mereka sembah menggunakan bahasa Ibrani, seakan-akan Allah senang kalau umat menggunakan bahasa asal atau bahasa Kitab Sucinya. Karena hal itu, secara otomatis dapat terbangun persepsi bahwa suku bangsa yang melahirkan agama tersebut bisa menjadi lebih terhormat dibanding suku bangsa lain. Tetapi tidaklah demikian dengan Kekristenan.

Kitab Suci orang percaya -yaitu Alkitab- harus diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh umat yang memeluknya. Mengapa demikian? Sebab dalam Kekristenan yang diutamakan adalah memahami kebenaran.

Dari pemahamannya mengenai kebenaran,
orang percaya dapat membangun kecerdasan roh untuk dapat mengerti
kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Selain itu, bangsa Yahudi sebagai bangsa asal Mesias tidak dianggap memiliki nilai lebih dari bangsa lain (Rm. 10:12 -Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya). Dalam Kekristenan, bangsa Yahudi tidak boleh dianggap lebih dari bangsa lain. Ketika semua orang memiliki kesamaan hak di hadapan Allah, maka semua bangsa memiliki kesamaan kedudukan di hadapan Allah.

Bukan sesuatu yang dapat menjadi kebanggaan, seandainya Kitab Suci orang percaya -yaitu Alkitab- tetap menggunakan bahasa asli atau bahasa asal yaitu bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Juga bukan sesuatu yang membuat kita berkecil hati kalau Kitab Suci kita -yaitu Alkitab- ditulis dalam bahasa terjemahan, bahasa ibu masing-masing bangsa. Justru dengan bahasa yang dikenal orang percaya, maka kebenaran Firman Tuhan dapat dimengerti dengan lebih mudah dan lebih lengkap, utuh dan tajam serta detail. Justru di sini orang percaya dengan Kitab Sucinya memiliki nilai lebih. Apa artinya mengenal bahasa asal atau bahasa asli Kitab Suci kalau tidak memahami isinya?

Alkitab tidak perlu atau tidak harus tetap dalam bahasa asli, sebab Alkitab tidak harus atau tidak perlu dilantunkan atau dinyanyikan, oleh sebab itu bahasa asli Alkitab tidak sangat dibutuhkan untuk semua umat, kecuali untuk memahami isinya bagi para pengajarnya. Harus diingat bahwa kesucian Kitab Suci bukan pada hurufnya, tetapi pada kebenarannya yang harus dimengerti dengan benar. Bahasa Ibrani dan bahasa Yunani tidak lebih suci dari bahasa lain. Dalam hal ini tidak ada pengkultusan terhadap suatu bahasa. Tidak ada bahasa di bumi ini yang ternyata adalah bahasa yang juga digunakan oleh penduduk surga. Tuhan tidak akan berpihak kepada suatu bangsa dan bahasa, sehingga bangsa dan bahasanya harus dikultuskan atau paling tidak dianggap lebih bernilai dari bangsa dan bahasa lain.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.