06. PENGERTIAN MENERIMA DIA

Kalimat yang mengatakan “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” hanya ditujukan kepada mereka yang mengenal Taurat, khususnya bangsa Israel. Sebab mereka berpikir bahwa dengan melakukan hukum Taurat mereka dapat berkenan di hadapan Tuhan. Dengan melakukan hukum Taurat mereka dilayakkan, bukan saja menjadi umat Allah di bumi, tetapi juga memiliki kehidupan yang akan datang, padahal Taurat tidak dapat menyelamatkan.

Perbuatan sebaik apa pun, tanpa pengorbanan Anak Tunggal Allah Bapa, semua sia-sia. Tetapi hal ini bukan berarti meniadakan Taurat atau setuju kalau Taurat dibuang. Tuhan Yesus menyatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-19).

Tuhan Yesus menyatakan: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Justru kedatangan Tuhan untuk menggenapi Taurat. Menggenapi artinya melengkapi pengertian mengenai hukum itu agar sempurna dan melakukan hukum-hukum dengan sempurna pula. Kalau selama ini belum ada yang dapat memahami Taurat sesuai dengan jiwa, nafas, dan esensinya, Tuhan Yesus menjelaskannya. Kata menggenapi (Mat. 5:17) dalam teks aslinya adalah pleroo (πληρόω); yang selain berarti menggenapi, kata itu juga bermakna “pengajaran-Nya datang dengan benar” dan juga berarti menyelesaikan atau melengkapi. Kata menggenapi juga berarti Tuhan Yesus melakukan hukum Taurat di dalam hidupnya dengan sempurna.

Kalau selama itu belum pernah ada manusia yang dapat melakukan Taurat dengan sempurna, Yesus adalah manusia pertama yang telah berhasil melakukannya dengan sempurna. Taurat yang berhasil dilakukan oleh Tuhan Yesus bukanlah Taurat seperti ukuran Taurat bangsa Yahudi, tetapi inti Taurat secara sempurna, yaitu melakukan kehendak Allah Bapa sebagai sumber tatanan dan hukum. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34).

Dengan keberhasilan Tuhan Yesus melakukan hukum Taurat secara sempurna, yaitu melakukan kehendak Bapa, maka Tuhan menjadi pokok keselamatan (Yun. Aitios) bagi orang yang percaya kepada-Nya. Pokok keselamatan bisa berarti penggubah atau penyusun. Sebelumnya, tidak ada yang mampu untuk itu. Orang-orang yang percaya dan menyatakan diri mengikut Tuhan Yesus harus mengikuti jejak-Nya; hidup seperti Dia hidup. Itulah sebabnya hidup keagamaan (Yun. Dikaiosune, kebenaran) orang percaya harus melebihi ahli-ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Hal ini hanya terjadi bagi semua orang yang taat kepada Tuhan Yesus (Ibr. 5:7-9). Kalau ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melakukan kehendak Allah yang diwakili oleh hukum-hukum-Nya, tetapi orang percaya bukan hanya melakukan hukum-Nya tetapi semua kehendak Allah Bapa. Inilah yang disebut melakukan kehendak Bapa.

Seseorang dikatakan percaya kepada Tuhan Yesus kalau mengikuti jejak-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa. Tanpa kesediaan mengikuti jejak-Nya, berarti seseorang tidak bisa dikatakan percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini berarti ia tidak mengalami dan memiliki keselamatan. Dalam hal ini, beriman adalah tindakan atau perbuatan seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika mengenakan tubuh manusia di bumi dua ribu tahun yang lalu. Beriman sama dengan melakukan kehendak Bapa seperti yang Tuhan Yesus lakukan (Yoh. 4:34).

Hal ini juga sama seperti Abraham yang selalu melakukan apa saja yang Tuhan Allah kehendaki untuk dilakukan. Iman seperti inilah yang dibenarkan. Hal ini sinkron dengan apa yang dikemukakan oleh Yakobus 2:17-24. Penjelasan Yakobus mengenai iman bukan saja kesediaan dengan pikiran mengakui adanya Allah, tetapi memiliki relasi yang harmoni dengan Allah dan melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang Dia kehendaki. Dalam hal ini jelas sekali bahwa tulisan Yakobus tidak bertentangan dengan tulisan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.