06. MENGGUNAKAN WAKTU

Banyak orang menyatakan bahwa waktu adalah uang (time is money). Hal ini bisa sangat dimengerti, sebab setiap jengkal waktu yang dimiliki seseorang bisa digunakan untuk menghasilkan uang. Itulah sebabnya banyak orang tidak tertarik mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh karena tidak memberi jaminan memperoleh uang atau harta. Tidak heran banyak orang menjadi workaholic, yaitu orang yang secara kompulsif atau terus menerus bekerja keras dalam waktu lama (a person who compulsively works hard and long hours). Ini adalah orang-orang yang kecanduan kerja. Mereka bekerja bukan sebagai hakikat, tetapi karena kecemasan dan keserakahan.

Di pihak lain mengenai waktu, ada orang-orang yang berkata waktu adalah anugerah. Benarkah bahwa waktu adalah anugerah? Bisa benar sebagian, sebab waktu adalah anugerah bagi orang tertentu dan waktu menjadi kutuk bagi orang tertentu yang lain pula. Waktu menjadi anugerah bagi orang yang mengisi waktu hidupnya secara bijaksana (Ef. 5:15-17); sebaliknya, waktu menjadi kutuk bagi orang yang mengisi hari-hari hidupnya dengan tidak bijaksana. Perhatikan beberapa ungkapan dalam ayat ini: “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, jadilah bijaksana jangan seperti orang bebal atau tidak bijaksana. Perlu memeriksa hidup apakah hidup kita sudah benar atau bijaksana, Yang bijaksana adalah yang mendengar Firman dan melakukannya” (Mat. 7:24-27).

Di dalam waktu hidup ini terdapat kesempatan, kesempatan ini bisa diibaratkan sebagai kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran Allah atau tidak. Dalam Efesus 5:16 tertulis: “pergunakanlah waktu yang ada.” Di sini waktu ibarat kendaraan yang dimanfaatkan. Dimanfaatkan di sini lebih tepat diartikan dengan digunakan, diarahkan ke tujuan yang benar. Sebab waktu tetap berjalan, tidak ada yang dapat menghentikannya. Kalau Alkitab menyatakan bahwa hari-hari adalah jahat, Tuhan mengingatkan kita bahwa dunia yang jahat mencenderungkan manusia menabur apa yang jahat karena pengaruhnya, agar manusia menjauh dari berkat Tuhan (Ef. 5:14-17). Menyadari hal ini maka yang kita lakukan adalah “bangun dari tidur.” Kata tidur di sini adalah “katheudo” yang artinya jatuh tertidur (to fall asleep). Bukan bermaksud untuk tidur, tetapi jatuh tertidur. Kata “mati” di sini bukan berarti mati tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali, tetapi masih berkemampuan untuk bangkit kalau mau. Tetapi kalau tidak mau bangkit, Tuhan pun tidak bisa membangkitkan dia.

Iblis memang membuat banyak orang Kristen jatuh tertidur sehingga menabur dalam daging, bukan menabur dalam roh. Hal ini dikehendaki oleh Iblis agar manusia menuai kebinasaan (Gal. 6:8). Kalau Alkitab berbicara mengenai hukum tabur tuai, sesungguhnya tekanannya bukan pada berkat jasmani, tetapi bagaimana mempersiapkan diri untuk menuai kemuliaan bersama Kristus suatu hari nanti dalam Kerajaan-Nya. Kalau dalam 1 Korintus 9, Paulus menyinggung mengenai tabur tuai, hal itu berkenaan dengan pelayanan kepada orang kudus atau dukungannya terhadap pekerjaan Tuhan. Barangsiapa tekun mendukung pekerjaan Tuhan akan dibuat Tuhan semakin efektif dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Di sini bukan bermaksud berdagang dengan Tuhan; kalau memberi banyak akan diberi banyak. Tetapi dengan rela mendukung pekerjaan Tuhan dengan limpah, maka Tuhan makin memercayainya untuk pekerjaan yang lebih besar.

Setiap orang pasti terseret oleh waktu. Karenanya, sementara kita terseret oleh waktu, hidup di dalam waktu harus kita arahkan ke tujuan yang benar (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat singkat, artinya kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran ini terbatas waktu penggunaannya (Yak. 4:4; 1Ptr. 1:24). Menyadari hal ini, kita akan memiliki hati yang bijaksana (Mzm. 90:10). Oleh sebab itu waktu yang sisa ini hendaknya tidak kita gunakan untuk hal-hal yang tidak Tuhan kehendaki, tetapi sebaiknya kita gunakan secara bijaksana (1Ptr. 4:2-3).

Oleh sebab itu, seseorang harus mengerti kebenaran dan mengakuinya serta berkomitmen dengan teguh. Supaya waktu yang ada digunakan untuk membawa diri kita ini kepada kebenaran Tuhan. Kenyataan yang kita lihat adalah waktu yang ada digunakan untuk membawa manusia kepada berbagai hal yang tidak membawa kita kepada kebenaran Allah. Banyak waktu yang digunakan sekadar mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi -seperti pangkat, prestasi, gelar, dll.- waktu digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya manusia memiliki kesadaran, ia lupa bahwa hidup ini sekarang baru permulaan dari sebuah kesadaran abadi (1Kor. 15:32; Luk. 16:19-31). Di balik kehidupan hari ini masih ada kehidupan panjang yang Allah sediakan, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh-tokoh iman (Flp. 3:10-11). Gereja Tuhan harus menggiring jemaat kepada kehidupan yang penuh harapan (1Ptr. 1:3-4). Harapan di sini menyangkut hidup kekal di langit baru dan bumi yang baru.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.