06. MENEMUKAN HATI BAPA

Ternyata hubungan dekat seseorang dengan orang tua di bumi ini, juga bisa membangun hubungan dengan Bapa kita di surga dengan keintiman yang lebih mendalam. Ini berarti kedekatan dan keintiman seperti yang dimiliki seseorang dengan orang tua di bumi, bisa secara konkret terbangun dalam hubungandengan Bapa di surga. Bapa menginginkan hal tersebut, karena memang orang percaya adalah anak-anak-Nya. Sesungguhnya, ini adalah hal yang lebih luar biasa dari segala hal. Sesungguhnya, Bapa yang kita sering sebut-sebut dalam doa dan nyanyian-nyanyian adalah Pribadi yang hidup dan mestinya sangat nyata, sehingga orang percaya dapat merasakan dan mengalaminya secara berlimpah. Tetapi sayang, banyak orang Kristen menyebut nama Bapa hanya sebuah fantasi dalam pikiran mereka. Bahkan mereka bisa berbicara banyak mengenai Bapa dan mendiskusikan-Nya, tetapi Bapa hanya menjadi wacana di nalar mereka semata-mata. Sejatinya, mereka tidak mengalami Bapa sama sekali. Teori dari kajian-kajian teologi mereka mengenai Bapa sekadar wacana yang tidak pernah dialami dalam kehidupan konkret.

Untuk itu, kalau kita mau mengalami Bapa, kita harus terus mencari hadirat Bapa setiap hari. Harus ada waktu khusus yang kita sediakan untuk bertemu dengan Bapa. Dari pengalamanada di hadirat Bapa setiap hari kita dapat menemukan kedekatan yang semestinya dengan Bapa. Ini membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang, yakni sepanjang umur hidup kita. Harus diingatkan, bahwa belajar duduk diam di kaki Bapa bukan sesuatu yang mudah. Tetapi kita harus membiasakannya sampai hal itu menjadi kebutuhan, bukan kewajiban yang berat untuk dilakukan. Dalam ketekunan ada di hadirat Bapa, kita dapat menemukan Dia.

Mungkin kita pernah mendengar atau bahkan sering mendengar mengenai menemukan hati Bapa yang dibicarakan oleh orang-orang yang mengaku orang percaya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan menemukan hati Bapa? Menemukan hati Bapa adalah hubungan yang sebagaimana mestinya yang diinginkan oleh Bapa yang harus dialami oleh orang percaya. Hubungan yang diinginkan Bapa bisa terjadi dalam hidup kita, yaitu kalau kita tidak merasa memiliki sesuatu yang dapat membahagiakan hidup kita kecuali kehadiran Bapa dalam hidup ini.Mestinya tidak ada lagi yang kita mau capai dan miliki kecuali mengerti kehendak Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Hal ini satu-satunya yang bisa menyenangkan hati Bapa.

Banyak orang Kristen merasa memiliki hubungan yang berkualitas baik dengan Bapa, padahal hubungan mereka belum berkualitas sama sekali. Hubungan mereka sama seperti hubungan anak balita dengan ibunya. Mestinya kita bertumbuh sampai kita mengerti kehendak Bapa, sehingga yang kita persoalkan dalam berurusan dengan Bapa bukan lagi kebutuhan-kebutuhan dan berbagai masalah pribadi, tetapi bagaimana menemukan kehendak Bapa untuk dilakukan (Mat. 4:34).

Orang yang menemukan hati Bapa, tidak lagi merasa bahwa dunia ini rumahnya. Orang percaya seperti ini memiliki kerinduan yang sangat kuat untuk pulang ke Rumah Bapa. Selain merindukan kehadiran Bapa di Rumah-Nya, juga bisa bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Faktanya, banyak orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah dibelenggu oleh percintaan dunia ini. Orang yang terbelenggu oleh dunia berarti dalam cengkeraman keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Tentu saja kasih Bapa tidak ada pada orang tersebut.Kalau orang percaya sungguh-sungguh menginginkan sebuah hubungan yang sepatutnya dengan Bapa, selain tidak ada lagi yang dapat membahagiakan orang percaya selain Bapa, orang percaya juga harus menjaga kesucian hidup, dari apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. TuhanYesus melalui Roh Kudus pasti menuntun orang percaya yang mengasihi Dia untuk bisa menemukan Bapa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.