06. KODRAT DOSA DI DALAM KEHIDUPAN

Paulus menyaksikan mengenai pengalaman hidupnya sebagai berikut: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Pernyataan Paulus ini menunjukkanbahwa kodrat dosa di dalam dirinyalah sebagai penyebab, mengapa ia berbuat apa yang tidak dikehendakinya. Itulah sebabnya di dalam kesaksiannya di Roma 7:17, ia mengatakan: Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Kalimat “bukan aku lagi yang memperbuatnya”, berarti bukan Paulus yang bermaksud memiliki keadaan diri demikian itu, tetapi dosa yang ada di dalam dirinya. Dari pernyataan Paulus ini nampak frustasinya Paulus menghadapi keadaan dirinya sendiri tersebut.

Kalimat “ada di dalam aku” dalam teks asli bahasa Yunani adalah oikeo (οἰκέω) (Rm 7:15). Kata oikeo ini berhubungan dengan kata oikos yang artinya rumah atau tempat tinggal. Jadi kalimat “ada di dalam aku” maksudnya menetap atau tinggal di dalam dirinya seperti penghuni sebuah rumah. Dari tulisannya ini, Paulus hendak menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada penghuni yang membangun keberadaannya, atau yang menggerakkan seseorang berbuat segala sesuatu. Penghuni tersebut yang menentukan perilaku seseorang. Itulah kodrat seseorang.

Kalimat berikutnya sukar dipahami ketika Paulus mengatakan: Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik (Rm. 7:16). Kata perbuat dalam teks aslinya di ayat ini bukan katergazomai (κατεργάζομαι) seperti di ayat 15 dan 17, tetapi poieo (ποιέω) yang lebih menunjuk kepada suatu tindakan yang membuat dampak. Dalam konteks ini, bedanya poieodengan katergazomai adalah kalau poieo menunjuk satu perbuatan yang menghasilkan suatu dampak, sedangkan katergazomai lebih menunjuk akumulasi tindakan yang utuh yang membangun suatu bentuk. Kata katergazomai juga bisa berarti menyelesaikan atau mencapai. Kata “kehendaki” dalam teks aslinya adalah thelo (θέλω), yang juga berarti “yang diharapkan atau yang dimaksudkan”.

Jadi kalau Paulus mengatakan: … jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Paulus hendak menunjukkan, bahwa yang dikehendaki oleh dagingnya adalah melawan hukum (karena kodrat dosa di dalam dirinya). Pada umumnya, kesukaan dagingnya adalah perbuatan yang melawan hukum atau bertentangan dengan kehendak Allah. Jadi, kalau ada saat-saat ia melakukan apa yang dikehendaki oleh dagingnya (yang berkodrat dosa) -yang dia benci- maka berarti ia menyetujui atau mengakui bahwa hukum itu baik. Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa perbuatan yang berdasarkan kodrat dosa adalah sesuatu yang buruk, dan ia ada dalam kesadaran bahwa apa yang dilakukan itu yang dia benci, berarti dia mengakui bahwa hukum baik, sebab Paulus ingin melakukan apa yang sesuai dengan hukum.

Meneguhkan mengenai kenyataan bahwa daging kita selalu berusaha mendesak melakukan apa yang tidak dikehendaki oleh Allah, dikalimatkan Paulus dengan pernyataannya sebagai berikut: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat (Rm. 7:18-19). Kemudian lebih tegas lagi Paulus mengatakan: Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rm. 7:20). Dari pernyataan Paulus ini, ia hendak mengemukakan bahwa ada kekuatan di dalam dirinya yang sering terekspresi dalam tindakan yang tidak dia kehendaki.

Ketika ia belum mengenal kebenaran Injil, ia tidak memiliki pergumulan konflik dalam dirinya tersebut. Ia merasa bahwa dirinya tidak bercacat dalam melakukan hukum. Tetapi ketika sudah mengenal kebenaran Injil, ia baru menyadari adanya kekuatan dosa di dalam dirinya. Sebagai teolog Yahudi, ia tidak mengenal kodrat dosa yang menjadi penghuni di dalam dirinya; tetapi ketika ia sudah mengenal kebenaran Injil, barulah ia menyadari adanya penghuni lain dalam dirinya. Penghuni itulah yang membuat dirinya sering tidak melakukan apa yang dia inginkan. Jadi, sejak mengenal kebenaran Injil, ia mulai bergumul dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai konflik internal. Hal ini bisa terjadi dalam kehidupan seseorang setelah menerima Roh Kudus. Roh Kudus menuntun orang percayakepada segala kebenaran. Segala kebenaran artinya kesucian hidup yang berkualitas tinggi, seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.