06. ANAK ISRAEL

Dalam Roma 9:27 tertulis: Dan Yesaya berseru tentang Israel: “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan”. Kita perlu memperhatikan, dalam teks ini untuk Israel tidak digunakan kata“bangsa Israel”, tetapi menggunakan kata “anak Israel”, huion Israel (υἱῶν Ἰσραὴλ). Apakah ini hanya menunjuk bangsa Israel secara darah daging atau menunjuk kepada semua orang percaya (baik Israel secara lahiriah maupun Israel rohani)? Kemungkinan hal ini menunjuk kepada semua orang yang mengenal Injil atau orang Kristen. Alasannya adalah jumlah anak Israel tersebut sangat besar; seperti pasir di laut. Dengan penjelasan ini, maka dapat dimengerti kalautidak semua orang Kristen akan menjadi umat pilihan di Kerajaan Surga. Tentu saja ayat ini masih dalam konteks ayat sebelumnya. Konteks ayat sebelumnya adalah Roma 9:24-26.

Dalam Roma 9:24-26 tertulis, …yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.” Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” di sana akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” Pernyataan Paulus ini sangat jelas menunjukkan, bahwa banyak orang -dalam jumlah sangat besar- dari berbagai suku bangsa menjadi umat pilihan yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Tentu saja mereka juga dapat disebut sebagai “anak Israel”. Kebenaran di atas ini diteguhkan oleh Roma 11:17-21 bahwa ada cabang asli dan cabang liar yang bisa dipotong. Cabang asli adalah bangsa Israel, dan cabang liar adalah mereka yang bukan berasal dari bangsa Israel. Jadi, bukan saja orang-orang dari suku bangsa Israel secara darah daging yang bisa tertolak, tetapi juga dari bangsa-bangsa lain yang sudah menjadi Kristen bisa tertolak, sehingga tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga, yaitu kalau tidak tetap di dalam kemurahan-Nya.

Pernyataan Paulus dalam Roma 9:27 ini berkaitan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 22:14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Tidak semua orang Kristen pasti masuk surga, atau tidak semua orang yang mengaku percaya kepada Yesus pasti diselamatkan. Mereka yang diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang “melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23). Untuk melakukan kehendak Bapa, orang percaya harus berjuang dengan perjuangan yang berat. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk. 13:24). Sungguh suatu penyesatan kalau diajarkan atau dikesankan bahwa masuk Kerajaan Surga itu sesuatu yang mudah, seakan-akan Kekristenan adalah jalan mudah untuk masuk surga. Dalam hal tersebut, harus diketahui bahwa sesungguhnya iman bukan hanya aktivitas pikiran, tetapi tindakan. Jadi kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka iamelakukan tindakan, yaitu harus melakukan kehendak-Nya.

Selanjutnya Roma 9:28-29 tertulis: Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.” Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: “Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.” Kalimat “Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera” hendaknya tidak dipahami salah, seakan-akan Tuhan sudah menentukan segala sesuatu, di dalamnya termasuk orang yang masuk surga. Maksud kalimat tersebut bisa mengandung dua pengertian, pertama bahwa semua yang telah dinubuatkan oleh Firman Tuhan pasti digenapi. Kedua, sejarah kehidupan manusia merupakan peta kebenaran, dan tatanan yang kapan pun pasti ditegakkan atau dipenuhi. Menyinggung Sodom dan Gomora, hal tersebut menunjuk kepada sejarah kota itu pada zaman Abraham, dimana jumlah orang benar di kota tersebut tidak lebih dari lima orang, sehingga Tuhanmenghancurkan kota-kota tersebut. Namun bagaimanapun masih ada “sisa” orang yang diselamatkan.

Dalam tulisan Paulus di atas, ia mengembangkan pemikirannya bukan hanya di kalangan orang Yahudi, tetapi juga secara universal bagi semua bangsa di dunia. Tuhan meninggalkan keturunan, artinya Tuhan pasti masih menopang kehidupan bumi ini karena orang-orang percaya yang mau tetap di dalam kemurahan-Nya, yaitu mereka yang sedang disempurnakan seperti Yesus untuk menjadi corpus delicti. Masih ada sisa orang yang menjadi sempurna atau diselamatkan; dikembalikan ke rancangan Allah semula. Hal inilah yang memperpanjang usia dunia. Kalau jumlah bilangan orang-orang terpilih yang menjadi corpus delicti ini genap, maka dunia akan diakhiri.

Dengan demikian bisa dipahami bahwa berita utama pembahasan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya adalah mengenai kehidupan orang percaya yang harus “istimewa”, untuk bisa menjadi orang-orang yang diklasifikasikan sebagai “sisa yang akan diselamatkan”. Keselamatan di sini tentu bukan sekadar masuk surga, tetapi kehidupan “umat pilihan yang istimewa” yang julukannya juga adalah “anak-anak Allah yang hidup”. Berbicara mengenai kehidupan anak-anak Allah, tentulah merupakan kehidupan yang istimewa, yang polanya adalah kehidupan Yesus sendiri dimana mereka harus menjadi serupa dengan Dia (Rm 8:28).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.