06. ALLAH TIDAK MEMBATALKAN

Paulus mengemukakan apa yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sebagai berikut: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka” (Rm. 11:26-27). Kalimat dalam ayat ini menunjukkan suatu perjanjian baru antara Tuhan dan sisa-sisa umat Israel yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dari bangsa Israel akan terpilih orang-orang percaya yang kefasikannya dilenyapkan dan dosa-dosanya diampuni. Tentu mereka adalah orang-orang Israel yang berani meninggalkan agama Yahudi, agama nenek moyang mereka dan mengikut Yesus yang adalah penggenapan dari kitab Perjanjian Lama.

Selanjutnya dalam Roma 11:28 tertulis: “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Kalimat “seteru Allah oleh karena kamu” maksudnya adalah dibanding dengan orang bukan bangsa Yahudi yang menerima Injil, bangsa Yahudi adalah musuh Allah, karena betapa nyata penolakan mereka terhadap Yesus sebagai Mesias. Bahkan sebagian bangsa Yahudilah yang menyalibkan Yesus. Ini memang ironi sekali, umat Allah yang telah mengecap kebaikan Tuhan, tetapi mereka sendiri yang menolak dan menyalibkan Rajanya.

Aspek lain, dipandang dari perspektif keturunan, berhubung nenek moyang mereka berasal dari Abraham, Ishak dan Yakub, maka mereka sebagai umat pilihan, sehingga Allah memandang bahwa mereka sebagai kekasih Allah. Dalam hal ini Allah tidak menyesali kasih karunia-Nya kepada bangsa tersebut (Rm. 11:29 “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Hal in menunjukkan kesetiaan Allah yang sempurna”). Allah tidak menyesal memilih Abraham dan memanggilnya untuk menjadi bapa segala bangsa. Berikut Ishak dan Yakub sebagai nenek moyang bangsa Israel yang melahirkan Mesias, sehingga sepanjang zaman Allah selalu mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham. Itulah sebabnya bangsa Israel menjadi bangsa yang istimewa di mata Allah.

Terkait dengan hal ini, perlu dipersoalkan Roma 11:29 yang berbunyi: “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Allah di sini adalah ho Theos yang menunjuk Bapa. Dalam Roma 11:29 menunjukkan seakan-akan Bapa bisa menyesal. Kata “menyesal” dalam teks ini sebenarnya adalah ametameletos (ἀμεταμέλητος), yang bukan hanya berarti menyesal tetapi juga berarti membatalkan, atau menganulir atau menarik kembali. Oleh sebab itu kata ametameletos tidak harus diterjemahkan menyesal atau bertobat, tetapi juga bisa diterjemahkan “tidak membatalkan atau tidak menarik kembali.” Dalam hal ini ho Theos (Allah) atau Bapa bukan menyesal seperti pengertian penyesalan pada umumnya, tetapi ho Theos atau Bapa tidak membatalkan atau menarik kembali kasih karunia-Nya bagi umat Israel.

Kemudian di Roma 11:30-31, Paulus menulis: “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.” Pernyataan Paulus dalam ayat-ayat ini menunjukkan timbal balik antara bangsa Israel dengan orang percaya. Dalam konteks keselamatan, bangsa Israel memberkati bangsa-bangsa lain, tetapi sebaliknya bangsa-bangsa lain juga memberkati bangsa Istael.

Dalam implikasi konkretnya, bahwa orang percaya yang menaati Injil bisa menimbulkan kecemburuan di hati bangsa Israel. Kecemburuan tersebut bisa menjadi pemantik reaksi bangsa Israel untuk memperhatikan Injil dan menerimanya (Rm. 11:14, “…yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging, dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka”). Besar kemungkinan hal tersebut hanya terjadi atau bisa berlangsung pada waktu itu, atau pada abad pertama ketika zaman gereja mula-mula dan sesudahnya. Tetapi sekarang, bangsa Israel sudah memiliki posisi yang permanen dalam menolak Yesus.

Mencermati hal di atas ini, maka sangatlah keliru kalau orang Kristen berpikir bahwa membantu bangsa Israel hari ini merupakan perintah Tuhan. Memang secara naluriah orang Kristen sulit menentang atau melawan bangsa Israel, sebab adanya ikatan emosi agamani dengan bangsa tersebut. Tetapi bukan berarti sekarang ini secara politis dan finansial orang Kristen harus membantu bangsa tersebut. Mereka bangsa yang kuat, yang tidak merasa perlu dibantu. Jadi, kalau ada orang-orang Kristen mencoba membantu bangsa itu secara finansial, ini menunjukkan sikap yang tidak mengerti kebenaran. Bisa memicu kemarahan dari pihak dunia Islam terhadap orang-orang Kristen.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.