05. TERJUAL DI BAWAH KUASA DOSA

Paulus mengatakan keadaan manusia adalah keadaan yang telah “terjual dibawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Kata ketiga yang penting adalah kata “terjual”. Ini berarti ada subyek yang membeli manusia, dan sesuatu yang menjadi obyek transaksinya. Kata ini sangat penting. Sebenarnya kata terjual adalah sebuah metafora (bukan dalam arti harafiah), bahwa oleh perbuatan salah Adam, menyebabkan semua keturunannya tidak bisa memiliki kemampuan untuk bertindak tepat seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian manusia selalu “meleset” (hamartia) dari apa yang dikehendaki oleh Allah. Bangsa Israel tidak pernah tidak meleset dalam melakukan hukum Taurat, itulah sebabnya harus ada darah domba sebagai alat penghapus dosa. Bagi umat Perjanjian Baru, dimana kehendak Allah sebagai hukumnya, maka umat pilihan Perjanjian Baru harus berjuang melawan kemelesetan (dosa; hamartia). Kemelesetan di sini adalah kemelesetan dari pikiran dan perasaan Allah.

Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan semua manusia tidak terjual di bawah kuasa dosa. Ini berarti semua manusia dapat terbeli untuk bisa hidup dalam kodrat Ilahi, yaitu hidup dalam kehendak Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Tetapi kenyataannya, manusia pertama telah jatuh dalam dosa. Adamlah yang menyebabkan manusia terjual, sehingga semua yang dilahirkan di bumi ini adadi bawah kuasa dosa. Keadaan manusia yang terjual di bawah kuasa dosa, adalah keadaan diri manusia yang -tidak dapat tidak-pasti meleset dari kehendak Allah yang sempurna. Inilah yang disebut Martin Luther sebagai nonposse nonpeccare.

Dalam sejarah kehidupan umat pilihan, telah terbukti bahwa manusia tidak dapat melakukan kehendak Allah dengan sempurna (bagi bangsa Israel melakukan Taurat). Hal ini terjadi karena manusia telah berkodrat dosa. Melakukan hukum Taurat saja tidak bisa terpenuhi dengan sempurna, apalagi melakukan kehendak Allah, yaitu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Paulus menjelaskan hal ini dengan pernyataan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm. 7:15).

Pengalaman Paulusseperti ini adalah pengalamannya setelah mengenal kebenaran Injil, sebab sebelum mengenal kebenaran Injil, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Ini berarti sebelum menjadi orang percaya Paulus tidak mengalami atau menyadari ketegangan (konflik) dalam dirinya dalam melakukan hukum. Lagi pula, pemimpin-pemimpin agama seperti Paulus, pada umumnya adalah orang-orang beragama yang sombong. Mereka tidak akan merasa sebagai orang berdosa, tetapi merasa sebagai orang yang sudah benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyindir mereka dengan pernyataan, bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit (Mat. 9:12).

Paulus mengatakan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Kata “perbuat” dalam teks aslinya di ayat Roma 7:15 ini adalah katergazomai (κατεργάζομαι) yang artinya to perform, accomplish, achieve, to work out, to fashion,to produce (melakukan, mencapai, menyelesaikan suatu tugas, berpenampilan, menghasilkan). Kata “perbuat” dalam ayat ini lebih menunjuk suatu penampilan atau keadaan hidup seseorang, bukan hanya satu atau dua tindakan. Tidak mungkin seseorang melakukan suatu tindakan di luar kesadaran atau tanpa sepengetahuannya. Tetapi ketika seseorang menyadari keadaannya, akibat dari akumulasi perbuatannya setiap hari, maka ia bisa berkata: “Mengapa aku berkeadaan demikian?” Kalimat berikut Paulus menyatakan: bahwa keadaan yang dimilikinya bukanlah apa yang diingininya, tetapi justru yang bukan diingininya atau yang dia benci malahan terjadi atau ada dalam dirinya.

Apa yang dikemukakan Paulus adalah sebuah perenungan diri. Ketika Paulus merenungkan apa yang dihasilkan dari perbuatan-perbuatannya setiap hari, ia sadar bahwa ia tidak melakukan apa yang dia ingini. Paulus mengatakan “tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat”. Hal ini terjadi, karena Paulus mengenal kebenaran. Dan dari mengenal kebenaran, ia memahami kesucian Allah. Tetapi ternyata apa yang telah dicapai atau dihasilkan dalam hidupnya terkait dengan moral, belum mencapai apa yang sesuai dengan standar kesucian Allah.Pergumulan inidialami oleh mereka, yang bukan saja memahami standar kesucian Allah, tetapi juga yang memiliki kehausan akan kebenaran. Kehausan akan kebenaran mendorong seseorang selalu memeriksa diri apakah keadaannya telah sesuai dengan kehendak Allah atau belum.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.