05. BUKAN PEMBENARAN YANG MUDAH

Banyak orang Kristen berpikir (tentu karena ajaran yang salah) bahwa dibenarkan artinya dianggap benar, walau banyak dosanya untuk kemudian dipermudah masuk surga karena keselamatan bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan iman. Adapun iman yang mereka maksudkan hanyalah sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Menurut mereka, asal mengakui atau setuju status Yesus sebagai Juruselamat berarti sudah beriman. Kalau mereka percaya pembenaran dengan iman kualitas tersebut, berarti itu adalah pembenaran palsu. Doktrin atau ajaran seperti itu menipu dan menyesatkan. Tentu saja banyak orang lebih suka model keselamatan yang mudah seperti itu.

Sesungguhnya, iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Komunitas yang meyakini bahwa dibenarkan artinya dianggap benar, walau karakternya masih buruk namun tetap memperoleh kemudahan masuk surga, dengan premis “keselamatan bukan berdasarkan perbuatan”, tetapi berdasarkan iman dalam bentuk pengaminan akali, adalah penyimpangan dari Injil yang benar. Biasanya mereka kurang, bahkan tidak menghargai nilai perilaku atau perbuatan dari karakter yang baik yang Allah kehendaki. Menghargai nilai perbuatan menurut mereka bisa merusak prinsip solagratia; only by grace. Walau mereka juga menganjurkan berbuat kebaikan, tetapi kebaikan yang dianjurkan tidak berstandar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Komunitas ini sulit meyakini bahwa di dunia orang percaya bisa sempurna seperti Tuhan Yesus, padahal setiap orang percaya harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Biasanya mereka tidak berjuang untuk sempurna seperti Bapa. Mereka juga tidak memahami pengertian sempurna.

Kesalahan orang-orang Kristen tersebut disebabkan karena mereka mencampuradukkan ayat Alkitab tanpa melihat konteks ayat per ayat. Hal ini juga terjadi karena mereka membela doktrin dari premis (asumsi) yang sudah ada. Mereka membelanya dengan membabi buta tanpa nalar yang obyektif dan cerdas. Bangunan berpikir yang salah tersebut mengunci pikiran, sehingga mereka tidak menemukan kebenaran murni dari Injil yang menyelamatkan, artinya tidak membawa mereka kepada pemulihan gambar Allah atau rancangan Allah semula. Bisa dipastikan kualitas keimanannya rendah. Perjalanan waktu akan membuktikan kesalahan mereka ini. Pengajaran seperti itu tidak akan mampu menopang hidup Kekristenan untuk tetap pada integritasnya sebagai anak-anak Allah yang harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Masyarakat Kristen Protestan Eropa pada umumnya berpendirian seperti itu, sekarang mereka menjadi masyarakat sekuler yang tidak beragama dengan benar. Gereja sepi dan bangkrut, bahkan berubah fungsi.

Teologi yang salah tersebut, biasanya juga berpandangan bahwa Tuhan Yesus mati hanya untuk sebagian orang, berpandangan bahwa maksud kalimat “tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” artinya bahwa tidak ada seorang pun yang pernah mampu dan berhasil melakukan melakukan hukum Taurat di masa lalu, bahkan sampai kapan pun di masa yang akan datang. Sebagai konsekuensinya, maka tidak ada orang yang bisa masuk surga di luar orang Kristen dan di luar orang-orang yang ditentukan untuk selamat. Dengan pandangan ini mereka menutup pintu terhadap kemungkinan orang di luar orang Kristen bisa masuk dunia yang akan datang. Mereka juga menutup pintu bagi mereka yang menurut mereka tidak ditentukan untuk selamat, yang sama dengan tidak ditentukan untuk masuk surga, walaupun sudah beragama Kristen.

Sejatinya, mereka belum memahami Taurat itu sebenarnya. Taurat adalah hukum yang intinya ada dua, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Mereka tidak mau mengerti bahwa Tuhan Yesus memperkenankan adanya orang-orang di luar orang Kristen masuk Kerajaan-Nya; bukan karena iman, tetapi karena perbuatan kasih (Mat. 25:31-46). Kita harus mengerti dan menerima bahwa mereka yang diperkenankan masuk surga dalam Matius 25:31-46 berdasarkan perbuatan kasih adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus. Itulah sebabnya mereka berkata: bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dengan demikian bisa ditegaskan bahwa Matius 25:31-46 ditujukan kepada mereka yang tidak pernah mengenal Tuhan Yesus. Mereka tidak tahu bahwa perbuatan baik mereka ternyata diperhitungkan sebagai perbuatan baik bagi Tuhan Yesus, Maharaja. Ini bukan kelompok orang Kristen, sebab tentu saja orang Kristen yang sudah membaca Injil tahu bahwa perbuatan baiknya diperhitungkan sebagai “bagi Tuhan sendiri”.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.