04. MENDEGRADASI KESELAMATAN

Banyak orang Kristen berasumsi, jika sudah percaya Tuhan Yesus Kristus maka memiliki kepastian untuk masuk surga. Dengan demikian, mereka yakin atau berusaha untuk meyakini bahwa setelah mati pasti masuk surga. Hal ini sering dikemukakan dengan segala kebanggaan sebagai supremasi di atas agama-agama yang ada di dunia. Tidak jarang mereka memandang rendah agama lain dan orang orang non-Kristen dengan pemikiran bahwa sebaik apa pun mereka tetap tidak selamat, sebab tidak memiliki Juruselamat. Sementara itu, kelakuan orang-orang Kristen itu, tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen. Hal ini didasarkan pada kalimat di dalam tulisan Paulus, bahwa keselamatan terjadi oleh iman, bukan karena perbuatan baik. Jadi, mereka tidak memiliki usaha yang sungguh-sungguh untuk bertumbuh dalam iman, guna mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau sempurna dengan Yesus. Padahal orang percaya dipanggil untuk serupa dengan Yesus, supaya Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Kasihan sekali, banyak orang Kristen mensyukuri keselamatan yang telah dirasa dimilikinya, padahal sama sekali dia belum memiliki keselamatan itu atau belum lengkap atau belum utuh. Belum lengkap atau belum utuh di sini adalah proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula belum tercapai, masih harus diperjuangkan. Kalau masih diperjuangkan berarti belum lengkap atau utuh. Ini berarti orang Kristen tidak boleh merasa puas dengan keadaan Kekristenan yang dimilikinya. Kekristenan adalah sebuah progresivitas, artinya proses bertumbuh dan berubah semakin dewasa tiada henti sampai meninggal dunia.

Orang percaya harus memahami bahwa keselamatan memiliki tiga dimensi. Pertama, dimensi masa lalu, yaitu kematian Yesus di kayu salib menebus dosa manusia. Kedua, dimensi sekarang, di mana orang percaya harus mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar; artinya mengusahakan untuk mencapai maksud keselamatan yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Ketiga, dimensi masa yang akan datang, artinya ketika orang percaya bertemu dengan Tuhan dan dinyatakan berkenan. Tentu keberkenanan ini diukur dari keserupaan dengan Yesus. Seringkali orang hanya mengerti keselamatan dari dimensi pertama dan tidak memperhitungkan apabila bertemu dengan Tuhan didapati berkenan atau tidak. Orang-orang seperti ini pasti tidak masuk dalam proses pada dimensi yang kedua. Mereka tidak mengerti tanggung jawab sebagai orang yang menerima kasih karunia.

Berdasarkan kasih karunia atau anugerah yang Tuhan berikan, setiap orang bertanggung jawab atas keadaan kekalnya nanti. Dengan demikian, apakah seseorang diterima atau ditolak oleh Allah juga berdasarkan usahanya mengisi hari hidup ini. Hal ini tidak bermaksud merusak doktrin atau prinsip sola gratia (only by grace). Keselamatan hanya oleh anugerah (sola gratia) bukan berarti dengan mudah, begitu orang mengaku percaya Yesus sudah bisa masuk surga. Sejatinya, dengan cara berpikir ini seseorang mendegradasikan nilai keselamatan dan menganggap Tuhan sebagai Tuhan yang murahan. Tanpa kasih karunia atau anugerah yang dikerjakan oleh Yesus di kayu salib tidak ada penghakiman, artinya semua manusia otomatis masuk neraka tanpa penghakiman. Dalam hal ini, manusia tidak perlu diperhitungkan atau dinilai lagi. Justru karena adanya kasih karunia atau anugerah di dalam atau melalui salib maka ada perhitungan dan penilaian.

Malang sekali, banyak orang Kristen berpikir atau berpandangan bahwa kasih karunia atau anugerah di dalam atau melalui salib meniadakan penghakiman. Seakan-akan tidak ada lagi perhitungan dan penilaian atas setiap individu. Mereka berasumsi bahwa orang-orang Kristen yang percaya Yesus setelah menutup mata (meninggal dunia), secara otomatis masuk surga. Menurut mereka, masalah dosa sudah selesai di kayu salib, jadi ketika seseorang meninggal dunia, dosa tidak perlu dipersoalkan lagi. Itulah sebabnya mereka berhak meyakini bahwa mereka pasti masuk surga. Keyakinan masuk surga dipandang sebagai bekal untuk sungguh-sungguh bisa masuk surga. Ini pemikiran yang sesat.

Semua dosa yang kita lakukan telah dipikul di kayu salib dua ribu tahun yang lalu, itu adalah dimensi keselamatan yang pertama. Tetapi harus disadari bahwa kodrat dosa dalam diri manusia yang telah ditebus oleh darah Yesus belum lenyap. Kodrat dosa inilah yang harus digantikan dengan kodrat Ilahi. Dalam hal ini orang percaya harus memasuki perjuangan mematikan segala sesuatu yang duniawi, sehingga manusia batiniahnya diperbaharui terus-menerus dan memperoleh kehidupan baru, yaitu kehidupan yang mengenakan kodrat Ilahi. Inilah yang dimaksud dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Orang percaya yang tidak mengerjakan keselamatan adalah orang yang menolak anugerah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.