03. BUKAN FISIKNYA

Alkitab adalah Kitab Suci; namun tentu yang suci bukan fisiknya secara lahiriah, tetapi kebenaran yang terdapat di dalamnya. Harus diingat bahwa pengertian suci di sini adalah berarti tidak bercela, tidak bisa salah, agung, tepat, benar karena memuat nilai moral yang tinggi, bisa dipercayai adanya dan bertalian dengan keberadaan Allah yang kudus. Tentu hal ini sama sekali tidak menunjuk kepada fisiknya. Jadi sangatlah bodoh dan picik kalau fisik Alkitab dipandang sebagai memiliki nilai sakral. Harus diingat bahwa Alkitab secara fisik dicetak di sebuah percetakan dengan menggunakan tenaga mesin dan manusia yang belum tentu orang percaya. Jadi, tidak ada alasan untuk mengkultuskan Alkitab. Tuhan menentang bentuk pengkultusan termasuk terhadap benda-benda lain, seperti salib, air suci (sekalipun diambil dari tempat-tempat tertentu), lukisan, ukiran (sekalipun itu lukisan atau ukir-ukiran gambar Kristus) dan lain sebagainya. Tuhan dan kehadiran-Nya tidak dapat diwakili apa pun dan siapa pun.

Memang faktanya banyak orang mengkultuskan fisik Kitab Sucinya. Sampai-sampai orang Kristen ikut terpengaruhi dalam kebodohan. Orang percaya tidak boleh mendewakan Alkitab seakan-akan secara fisik atau secara harafiah kitab ini memiliki unsur mistis, sehingga secara fisik Alkitab harus diperlakukan secara khusus. Seperti misalnya, ada orang Kristen yang dianggap tidak menghormati Alkitab karena menjepit Alkitab dengan lengan dan dada di sekitar ketiak. Ada pula yang berpandangan bahwa sebelum memegang Kitab Suci harus cuci tangan dulu dan lain sebagainya. Cara pandang ini salah. Dengan penjelasan ini, bukan berarti orang percaya boleh secara fisik memperlakukan Alkitab secara sembarangan.

Kalau seseorang menghormati isi Alkitab,
maka perlakuannya secara fisik pun pasti pantas pula.

Mengapa sampai orang mensakralkan atau mengkeramatkan benda seperti Kitab Suci secara fisik? Sebab memang dalam banyak agama terdapat kecenderungan melakukan ibadahnya pun secara lahiriah. Jadi tidak heran kalau benda-benda yang terkait dengan ibadah dianggap sakral pula. Dalam Kekristenan tidak ada ruangan untuk memberi pandangan atau sikap seperti itu. Kekristenan menekankan sikap batiniah. Dengan sikap batiniah maka kebenaran menjadi fleksibel dan dinamis, artinya di dalam segala keadaan dan zaman dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan jiwa atau nafas kebenaran. Sekarang ini Kitab Suci ada di dalam handphone, handphone dimasukkan kantong celana. Sopankah? Dibawa ke toilet, pantaskah? Dari kasus ini, nyata betapa hebat kebenaran di dalam Injil yang tidak menekankan hal-hal lahirah sama sekali.

Akibat sikap yang salah -yaitu menekankan hal-hal lahiriah- maka hal-hal yang bersikap batiniah tidak mendapat penekanan secara proporsional. Allah yang agung diperlakukan seperti dewa-dewa murahan yang menekankan hal-hal lahiriah. Demikianlah dapat kita jumpai pula penyembahan kepada dewa-dewa yang menekankan hal-hal lahiriah; baik sikap tubuh, tempat, waktu dan lain sebagainya. Biasanya mereka memiliki upacara agama dan seremonial yang diatur sedemikian detil mengenai cara, tempat dan waktunya. Bagi mereka kemeriahan dan kekhusukan seremonial tersebut menentukan keberkenanan di hadapan dewa-dewa mereka.

Dalam kehidupan orang percaya diajarkan agar orang percaya menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran). Hal ini menunjuk kepada ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu dan cara-cara tertentu, tetapi menekankan sikap batin yang diekspresikan dalam tindakan secara konkret setiap hari. Dalam hal ini, ibadah bukanlah bentuk seremonial atau liturgi, tetapi sikap hati, cara berpikir, gaya hidup dan seluruh perilaku. Pola ibadah seperti ini tidaklah diatur oleh cara-cara tertentu, tidak terikat ruangan dan waktu. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran, maka sebenarnya zaman agama telah ditutup, dan digantikan dengan kebenaran Tuhan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyejajarkan Kekristenan dengan agama manapun, karena sesungguhnya Kekristenan bukan agama yang menganut aturan hukum yang tertulis sehingga disebut sebagai jalan hukum, tetapi Kekristenan adalah jalan hidup yang mengikuti jejak Yesus. Agama pada umumnya, pikirannya adalah pikiran hukum, tetapi orang percaya memiliki pikiran Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.