03. BERTINDAK MENURUT KEHENDAK-NYA

Harus ditegaskan bahwa pemilihan atas Yakub sebagai nenek moyang bangsa Israel, bukanlah pemilihan yang memiliki dampak langsung bagi semua manusia. Itu hanya pemilihan suatu bangsa yang akan melahirkan Mesias, dan mereka menjadi bangsa yang menyimpan rahasia pengenalan Sesembahan, yaitu Elohim Yahwe. Sebenarnya Tuhan juga bisa memilih bangsa manapun, tetapi dalam kedaulatan-Nya, Dia memilih bangsa Israel. Pemilihan Yakub sebagai nenek moyang Mesias oleh Tuhan berdasarkan kedaulatan-Nya, tidak boleh menjadi landasan pemilihan dan penunjukkan individu sebagai umat pilihan yang diperkenankan masuk surga.

Pada akhirnya, umat pilihan yang sesungguhnya adalah keturunan Abraham oleh iman. Keputusan memilih Yakub bukanlah keputusan yang memiliki dampak besar dibandingkan dengan fakta keselamatan kekal atas setiap individu. Menjadi umat pilihan berdasarkan iman adalah perjuangan, sebab iman bukan hanya sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman adalah tindakan konkret dan nyata, dimana seseorang harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan. Orang yang menolak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, berarti menolak untuk beriman.

Dalam hal tersebut, nyata bedanya antara umat pilihanketurunan secara darah dan daging, dengan umat pilihan karena iman. Umat pilihan secara darah dan daging, secara otomatis terlahir sudah menjadi umat pilihan. Hal ini terjadi bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan pilihan dan panggilan. Adapun orang percaya oleh iman, tidak otomatis menjadi umat pilihan karena terlahir dari keluarga Kristen. Masing-masing individu orang Kristen harus meresponi keselamatan dengan bertindak menuruti kehendak Tuhan. Menuruti kehendak Tuhan itulah iman.

Hal menentukan siapa yang akan menjadi nenek moyang Israel merupakan hal yang besar dan penting bagi bangsa Israel, tetapi bagi umat manusia pada umumnya (bangsa-bangsa lain), pemilihan atau penetapan tersebut tidak sepenting seperti bagi bangsa Israel. Bagi umat manusia atau bangsa-bangsa lain, yang penting adalah kehadiran Juruselamat yang mengangkut dosa dunia, tidak masalah dari bangsa mana pun. Sangat keliru kalau penetapan pemilihan Israel -sebagai umat pilihan berdasarkan kedaulatan Tuhan-disejajarkan atau diparalelkan dengan keselamatan kekal individu; seakan-akan sebagaimana Tuhanmenetapkan bangsa Israel sebagai umat pilihan, demikian pula Tuhan menetapkan keselamatan masing-masing individu dalam kekekalan. Tuhan tidak pernah menentukan seseorang untuk masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak dengan mengabaikan respon dan tanggung jawab manusia. Harus ditekankan dan ditegaskan bahwa konteks pembicaraan Roma 9 hanya mengenai pemilihan Israel, bukan penetapan keselamatan kekal individu. Harus diingat bahwa percakapan Paulus dalam Roma 9:1-5 adalah mengenai bangsa Israel yang secara individu menolak Yesus sebagai Mesias. Hal ini menjadi kesedihan Paulus, walaupun mereka adalah umat pilihan yang memiliki hak-hak istimewa, tetapi mereka gagal menjadi umat pilihan abadi.

Supaya suatu hari nanti, keselamatan bagi semua manusia terwujud melalui bangsa Israel, maka Elohim Yahwe bertindak secara ekstrem, melepaskan bangsa itu dari cengkeraman Mesir. Tuhan memakai tangan Firaun untuk mewujudkan rencana-Nya (Rm. 9:17, Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.”). Kalimat “membangkitkan” dalam teks ini bukan berarti Tuhan mengambil alih kehendak seseorang, kemudian mengontrol dan mengendalikannya, sehingga seseorang dijadikan boneka untuk berbuat sesuatu, termasuk perbuatan yang jahat, seperti yang dilakukan Firaun. Tentu tidak demikian maksudnya.

Firaun memang “sudah berkeadaan jahat”. Keadaan jahat Firaun tersebut bisa dipakai untuk memenuhi rencana Tuhan. Ini tidak sama dengan “membuat Firaun menjadi jahat” demi maksud rencana Tuhan. Dalam hal ini nyata bahwa premis dasar seseorang yang menentukan perspektifnya atau cara memandangnya. Kalau premis dasar seseorang adalah bahwa Tuhan menentukan segala sesuatu, maka mau tidak mau ia harus menyatakan bahwa Tuhan yang membuat Firaun menjadi jahat dan menggunakan kejahatan Firaun untuk memenuhi rencana-Nya.Tetapi ini pandangan yang keliru, sebab bisa menggambarkan atau menunjukkan bahwa Elohim Israel bukan Pribadi yang cerdas dan baik.

Kalau premis dasarnya adalah bahwa Tuhan memberi kehendak bebas atas setiap orang, maka dipahami bahwa kejahatan Firaun bukan karena Tuhan yang membuat atau menjadikannya demikian. Firaun memang sudah menjadi jahat oleh keputusan-keputusan dan pilihan-pilihannya, dan Tuhan memakai keadaan tersebut untuk memenuhi rencana-Nya. Dengan demikian dapat digambarkan atau ditunjukkan bahwa Elohim Israel adalah Sesembahan yang cerdas. Sesembahan yang cerdas, tanpa mengendalikan kehendak manusia, mampu melaksanakan rencana-Nya dengan sempurna. Jika suatu hari nanti Tuhan menghakimi manusia, maka Ia tidak dapat dipersalahkan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.