02. TETAP DALAM KEMURAHAN-NYA

Karena lebih banyak mempromosikan kebaikan dan kemurahan Allah, tetapi tidak melihat aspek lain dari diri Allah, maka banyak jemaat memahami seakan-akan Allah tidak memiliki ketegasan. Hal ini mengakibatkan banyak orang Kristen hidup sembarangan, sembrono atau ceroboh. Untuk itu, kita harus memperhatikan kalimat dalam Roma 11:22 agar kita “tetap dalam kemurahan-Nya.” Tetap dalam kemurahan-Nya, bisa berarti tetap dalam kebaikan Tuhan, maksudnya bertumbuh terus untuk memiliki kebaikan moral atau integritas seperti Yesus, sebab kita diselamatkan agar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus yang melakukan kehendak Bapa. Biasanya pemberitaan yang tidak seimbang dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Pertama, seakan-akan Allah memberi keselamatan dengan mudah kepada manusia. Mereka memiliki pemahaman yang salah mengenai keselamatan, yaitu asalkan dengan pikiran atau nalar sudah setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat, maka mereka sudah selamat. Mereka memahami keselamatan hanya sekadar terhindar dari neraka, padahal keselamatan adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Mereka pasti tidak mengerti, bahwa Allah menghendaki orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan keadaan moral mereka yang sudah baik, mereka merasa yakin sudah diperkenankan masuk surga. Padahal orang percaya dirancang untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan, yang sama dengan “datang atau sampai kepada Bapa.” Hanya orang yang seperti Yesus yang sampai kepada Bapa.

Kedua, ajaran yang mengajarkan Kekristenan adalah jalan yang mudah. Banyak orang Kristen memahami bahwa Allah yang murah hati membuat kehidupan ini tidak sulit dijalani dan Tuhan memberi segala kemudahan kepada orang yang mau percaya kepada-Nya. Dalam hal ini seakan-akan juga dikesankan bahwa Allah membutuhkan pengikut. Kalau orang sudah mau menjadi pengikut-Nya, yaitu menjadi orang Kristen, maka Tuhan disenangkan hati-Nya, sebagai balasannya, maka Allah menjagai orang-orang Kristen seperti ini dengan berkat jasmani dan perlindungan-Nya. Penggambaran Allah yang salah seperti hal tersebut di atas adalah penyesatan. Pandangan ini melukiskan Allah yang Agung menjadi murahan. Padahal Firman Tuhan sangat tegas mengatakan, kalau seseorang tidak meninggalkan dosanya, Allah tidak akan menerimanya atau menolak mereka (2Kor. 6:17-18; 1Tes. 4:7-8; 1Ptr. 1:16-17 dan lain-lain).

Ketiga, ajaran yang mengatakan bahwa Allah menentukan sebagian orang untuk selamat dalam pengertian masuk surga. Tentu saja di lain pihak, ada pula orang-orang yang tidak ditentukan untuk selamat. Doktrin ini paling merusak bangunan iman Kristen yang benar. Kalau Allah menentukan orang-orang tertentu untuk selamat dan yang lain tidak ditentukan untuk selamat, maka Firman Tuhan tidak akan mengatakan: “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga (Rm. 11:21-22).” Justru Firman Tuhan ini mengajak orang percaya untuk bertindak dengan benar terhadap Allah, sebab Allah bisa menerima dan juga menolak atau membuang, hal mana tergantung dari sikap atau respon masing-masing individu, bukan karena Allah yang bertindak secara sepihak menentukan keselamatan masing-masing individu.

Di dalam Roma 11:21-22, terdapat kalimat-kalimat yang menunjukkan betapa masing-masing individu harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri, bukan Allah yang bertanggung jawab atas kehidupan individu. Kita harus memperhatikan siapa dan bagaimana Allah itu. Untuk itu kita harus memiliki pengenalan, ajaran dan doktrin yang benar. Kalimat “perhatikanlah kemurahan dan kekerasan-Nya,” menunjukkan bahwa Allah memiliki hakikat yang harus dikenal dengan benar. Selanjutnya, terdapat kalimat “jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya” dan jika tidak… Kalimat ini sangat jelas menunjukkan bahwa orang percaya harus memiliki respon yang benar terhadap Allah. Kalau pengenalan akan Allah sudah salah, maka pasti tidak akan ada respon yang memadai dari seseorang terhadap Allah dan anugerah-Nya. Patut kita melihat dengan jujur, teliti dan cerdas, bahwa teologi yang salah seperti ini ada pada banyak orang Kristen di Eropa pada umumnya. Hal ini menggiring mereka kepada kekafiran, seakan-akan nenek moyang mereka tidak pernah mengenal Allah. Banyak gereja-gereja yang ditinggalkan dan menjadi bangkrut. Masyarakatnya menjadi sangat sekuler. Hal ini merupakan fakta empiris yang tidak dapat dibantah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.