02. MENJADI ANAK ALLAH

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa Bapa tidak mencari keuntungan apa-apa dari kita, karena segala sesuatu adalah milik-Nya, dan Dia bisa berbuat apa saja untuk membahagiakan Diri-Nya. Dalam kekekalan Bapa sudah menikmati kebersamaan dalam kebahagiaan yang tidak terbatas dan sempurna dengan Putra Tunggal-Nya. Bapa melahirkan dan menciptakan manusia sebagai anugerah yang tidak terhingga. Bapa bermaksud membawa manusia masuk dalam persekutuan dengan Putra Tunggal Bapa dalam kekekalan sebagai Keluarga Besar. Tidak ada makhluk yang diberi hak istimewa seperti yang Bapa sediakan bagi manusia.

Adam disebut anak Allah, sebab roh yang ada di dalam dirinya adalah roh yang berasal dari Diri Bapa. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Adam adalah anak Allah. Tetapi Adam tidak pantas disebut anak Allah lagi ketika ia tidak dengar-dengaran kepada-Nya. Adam lebih memilih mendengar suara yang lain. Sampai pada batas waktu dan keadaan tertentu, Allah harus mengusir Adam dari hadirat-Nya dan dari kebersamaan dengan Putra Tunggal-Nya. Hal ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh Bapa, tetapi Allah tidak bisa mengingkari Diri-Nya. Setiap kesalahan harus menerima hukumannya.

Pada hari Allah mengusir Adam dan istrinya, Allah sangat berdukacita, malaikat-malaikat-Nya pun ikut berdukacita sangat mendalam (Kej. 3:23-24). Hanya si pemberontak dan malaikat-malaikat yang berkhianat terhadap Allah yang bersukacita. Mereka merasa menang dapat mengungguli anak Allah, Adam. Walau Adam gagal, tetapi Allah masih memberi kesempatan kepada keturunan Set untuk hidup dalam pimpinan Roh-Nya, tetapi ternyata anak-anak keturunan Setpun memilih hidup sesuka hatinya. Mereka tahu bahwa Allah tidak suka jika mereka memilih istri dari keturunan orang keji, tetapi mereka tetap melakukan apa yang mendukakan hati Allah, bahkan mereka juga melakukan banyak kejahatan.

Hati Bapa sangat berduka. Putra Tunggal Bapa, Allah Anak sangat menyesal. Allah harus memusnahkan bumi -selain Nuh dan keluarganya- sebab Allah merencanakan menciptakan manusia yang sesuai dengan rancangan awal. Kalau bumi tidak dimusnahkan pada waktu itu, anak-anak Nuh pun akan terseret dalam kejahatan manusia, sehingga tidak pernah dapat ditemukan lagi orang-orang yang menjadi sarana Putra Tunggal Bapa turun menjadi manusia untuk memenuhi rencana-Nya. Sesungguhnya hukuman air bah adalah cara Allah menyelamatkan dunia ini. Hal tersebut dilakukan demi keselamatan manusia, hadirnya Kerajaan yang diberikan kepada Putra Tunggal Bapabersama orang percaya, serta demi Keluarga Besar yang Bapa inginkan.

Sekarang Putra Tunggal Bapa telah menyelesaikan tugas penyelamatan. Anugerah yang disediakan bagi umat pilihan harus dihargai dengan respon yang benar. Orang percaya harus menyambut anugerah yang Allah berikan dengan respon yang patut. Cara menyambut anugerah Allah adalah dengan meneladani kehidupan Putra Tunggal Bapa, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sudah menunjukkan kepada dunia bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah Bapa. Kalau orang Kristen tidak mengikuti jejak hidup Yesus, berarti mereka menolak anugerah Allah. Untuk apa seseorang mengaku percaya, tetapi tidak mengikuti jejak hidup Yesus? Orang percaya harus tahu bahwa keselamatan diberikan dengan maksud satu-satunya, yaitu orang percaya menjadi manusia seperti Putra Tunggal Bapa.Dengan demikian orang percaya pantas disebut sebagai anak Allah dan dilayakkan masuk anggota keluarga Kerajaan Allah.

Waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada orang percaya untuk menjadi anak Allah sangat terbatas dan hanya satu kali saja. Orang percaya harus memanfaatkannya dengan baik. Tidak boleh ada kesibukan dalam hidup ini yang tidak diarahkan pada proses perubahan menjadi anak Allah yang berkodrat Ilahi, agar layak masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Oleh sebab itu diperingatkan dengan tegas, agar orang percaya tidak tertarik lagi dengan apa pun selain KerajaanSurga di mana Bapadan Tuhan Yesus berada. Kita tidak boleh lagi melakukan apa yang tidak sesuai dengan keinginan Bapa. Keinginan Bapa adalah agar orang percaya mengenakan kesucian hidup seperti kesucian Allah Bapa sendiri. Harus selalu diingat bahwa Tuhan memanggil kita bukan sekadar agar kita menjadi orang beragama yang baik, tetapi Tuhan memanggil umat pilihan untuk menjadi manusia yang serupa dengan Putra Tunggal Bapa, yaitu Tuhan Yesus dengan keagungan kepribadian-Nya yang memuaskan hati-Bapa.

Apabila orang percaya sudah bertumbuh dewasa dan menikmati damai sejahtera Allah, maka orang percaya tidak menginginkan lebih lama hidup di bumi ini. Dunia sama sekali tidak lagi menarik. Tidak ada yang dapat membahagiakan orang percaya selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Orang percayaseperti ini tidak akan mendukakan hati Bapa dan Tuhan Yesus, gairah hidup mereka hanyalah menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Mereka akan berjuang bagaimana mengerti kehendak dan rencana Bapa untuk dilakukan dan penuhi. Ini berarti hidup dalam kesucian seperti kesucian Allah sendiri. Orang percayayang dewasa rela berbuat apa pun untuk kepentingan keselamatan orang lain. Seperti Allah Anak yang rela melepaskan segala kemuliaan-Nya demi keselamatan kita, demikian pula kita harus rela melepaskan segala sesuatu yang kita miliki demi kesempurnaan dirikita sendiri dan keselamatan jiwa orang lain. Kita tidak bolehlagi merasa memiliki apa pun, kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya. Apabila kita belum memiliki keadaan seperti ini, berarti kita tidak layak bagi Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.