02. MEMBUKA MATA

Harus ditegaskan bahwa Tuhan tidak berintervensi atau masuk ke dalam jiwa Firaun -sehingga hatinya menjadi keras- tetapi Tuhan mendesak Firaun melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi, yaitu tulah-tulah yang Allah datangkan. Dalam Keluaran 3:19-20, Firman Tuhan mengatakan: Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat. Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi. Hal ini diteguhkan dalam Keluaran 5:24 – Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya”.

Dalam ayat-ayat tersebut jelas menunjukkanbahwa Tuhan tidak dapat mengubah hati Firaun, kecuali melalui kejadian yang memaksa Firaun mengizinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Sesungguhnya memang demikian adanya. Jadi kata “mengeraskan” harus dimengerti dengan benar. Maksud “mengeraskan” tersebut adalah bahwa berhubung Firaun berkeberatan atau tidak mengizinkan bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Elohim Yahwe mendatangkan tulah-tulah yang membuat Firaun semakin jahat. Tetapi oleh karena tekanan semakin kuat dari tulah-tulah tersebut, serta desakan rakyat Mesir, maka terpaksa Firaun melepaskan bangsa Israel. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa akhirnya Firaun tetap memburu bangsa Israel, tetapi kemudian Firaun dan tentaranya ditewaskan di dalam laut Tiberau. Kereta perang dan perlengkapan senjata perang pun juga dibenamkan di dalam laut tersebut. Kemudian suatu hari pada tahun 1988, ketika dilakukan penggalian arkeologi di sekitar laut tersebut, terbukti bahwa peristiwa tersebut benar-benar pernah terjadi dan merupakan fakta sejarah.

Melalui tulah-tulahyang diberikan oleh Tuhan, diharapkan dapat membuka mata Firaun agar mengenal kemuliaan Elohim Israel. Namun kenyataannya, Firaun tetap tidak bertobat. Tetapi melalui kejadian-kejadian tulah tersebut, bangsa Israel memperoleh pengenalan, bahwa Sesembahan mereka perkasa. Sebagai dampaknya pula, bangsa-bangsa yang wilayahnya kemudian hari akan dilalui bangsa Israel, tidak mempersulit bangsa Israel melewatinya untuk menuju Kanaan.

Kasus mengenai pengerasan hati Firaun, harus diamati dengan teliti, cerdas, dan jujur (Kel. 4:21; Rm. 9:17). Apakah Elohim Yahwe mengeraskan hati Firaun karena didorong kebencian-Nya terhadap Firaun tanpa alasan? Kita harus meneliti kisah tersebut secara menyeluruh dalam seluruh konteksnya. Dalam memahami kebenaran, kita tidak boleh mengambil satu atau dua ayat, lalu menafsirkan secara sembarangan berhubung sudah terlebih dahulu memiliki premis tertentu. Premis tertentu yang mengakar dalam diri seorang penggali Alkitab dapat menawannya atau membelenggunya, sehingga tidak dapat menangkap maksud teks Alkitab secara tepat. Tidak mungkin Elohim Yahwe mengeraskan hati Firaun, atau siapa pun, tanpa alasan. Hanya allah yang tidak waras pikirannya bertindak tanpa aturan dan tanpa dasar.

Menurut beberapa penemuan arkeologi, Firaun yang memerintah pada zaman Yusuf dan keluarga Yakub masuk Mesir adalah Firaun Apepi III (zaman wangsa Hyksos). Tetapi Firaun yang menekan bangsa Ibrani adalah “raja yang tidak mengenal Yusuf” (Kel. 1:8). Menurut sejarah, keturunan wangsa Hyksos yang ke-18, kemungkinan adalah Raja Thotmes 1 yang mulai berusaha menghapus semua bangsa Israel -karena dikhawatirkan akan mengambil alih kekuasaan- dan menindas mereka. Tidak heran kalau anak-anak bayi orang Ibrani dibantai. Kemungkinan yang menyelamatkan Musa adalah putrinya Ratu Hatsyepset, permaisuri Raja Thotmes II. Firaun yang memperberat penderitaan bangsa Ibrani adalah Raja Thotmes III. Pada waktu itu Musa berumur 40 tahun.

Firaun yang memerintah pada waktu bangsa Ibrani keluar dari Mesir adalah Amenofis II sekitar tahun 1447 sebelum Masehi. Firaun Amenofis II yang berkuasa pada zaman itu, pada dasarnya adalah penguasa yang lalim. Mereka memperbudak bangsa Israel, dan karena takut bangsa Ibrani ini menjadi kuat, maka Firaun menindasnya dengan kejam. Bidan-bidan diperintahkan membunuh anak-anak laki-laki dari bangsa Israel. Bisa dibayangkan, betapa jahatnya manusia macam Firaun. Keturunan Firaun seperti ini pasti juga mewarisi kejahatan nenek moyangnya. Sangatlah dimengerti kalau Tuhan mengeraskan hati mereka. Ini bukan suatu kejadian yang berlangsung dadakan atau secara tiba-tiba. Itulah sebabnya, bukan pula tanpa landasan dan alasan Allah bertindak demikian.

Sangatlah gegabah kalau kasus Tuhan mengeraskan hati Firaun diparalelkan dengan pemilihan Yakub, apalagi jika diparalelkan dengan pemilihan keselamatan atas individu-individu. Harus diingat, bahwa Elohim Yahwe tidak pernah membuat Esau menjadi jahat dengan mengeraskan hatinya, sementara itu Allah membuat hati Yakub menjadi baik sehingga dapat menjadi umat pilihan. Kalau Firman Tuhan mengatakan bahwa Elohim Yahwe membenci Esau (dalam kitab Maleakhi), sebab peristiwa sejarah sudah membuktikan kejahatan Esau. Hal itu diangkat Tuhan di zaman Maleakhi, dimaksudkan agar bangsa Israel menghormati Tuhan, tidak seperti Esau yang tidak menghormati orang tuanya, dan hak kesulungannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.